Tuesday, October 30

Spare Time...Fun Time...

Di bawah tekanan tugas dan ujian, kini saya sadar bahwa waktu senggang sangatlah berharga. Waktu senggang bukanlah waktu yang sengaja dianugerahkan Allah untuk melakukan hal-hal remeh (futile), sama sekali bukan!

Andai Allah memberi saya waktu senggang lagi (mungkin setelah pekan ujian, amiin), saya akan...
1. Menghabiskan waktu seharian di perpustakaan untuk baca buku hukum sebanyak-banyaknya!
2. Membaca buku-buku inspiratif dan motivasional, untuk mengisi "bahan bakar" jiwa.
3. Menonton film-film inspiratif dan motivasional.
4. Belajar bahasa asing intensif.
5. Menulis.
6. Mencuci hingga tumpukan baju kotor lenyap dari kamar.
7. Membuat blog baru yang lebih profesional, cerdas dan tematik, serta berguna bagi orang lain.
8. Ikutan lomba-lomba/kompetisi-kompetisi
9. Studi kasus.
10.Update pengetahuan tentang isu-isu hukum dan politik.
11. Nonton film-film tentang pengadilan.

Wahai kau yang sedang punya waktu senggang, matikan TV-mu! Percaya sama saya, waktu senggang tuh ada bukan sekadar untuk relaksasi, tapi juga untuk mengerjakan hal-hal yang akan memberi added value dalam diri kita!

Monday, October 29

Now closer to the future...

Tengah malam tadi saya terbangun, plus kaget melihat di samping bantal tergeletak sebuah buku inspiratif berjudul Hadiah Terindah dan selembar kertas bertuliskan “Dari teman sekamarmu. Met ultah! Moga gak bosan menikmati malam bersama kita. (M.Fajrin R. – Devandra Alferi)”

Pas bangun Shubuh pun sudah ada sms dari Fiqih, yang juga baru ultah kemarin, mendoakan agar saya jadi “pejuang yang istiqomah”. Segera saya mengucap “amiin..amiin..amiin..”.

Alhamdulillah.

Tapi, boleh gak kalau di hari bahagia ini saya minta kado? Saya mau minta dua kado yang sangat sangat mahal dan berharga. Moga teman2 sanggup dan mau memberikannya...

Pertama, saya minta kado “maaf”...

Pernah saya menilai diri sendiri, hasilnya ialah saya punya beberapa kelebihan. Namun, dibandingkan dengan kelebihan-kelebihan itu, ternyata kekurangan-kekurangan saya jauh lebih banyak jumlahnya! Kadang kelewatan kalau becanda.. Kadang cuek dan tidak menghargai orang lain.. Kadang lalai dari tanggung jawab.. Kadang malas piket di asrama.. Kadang emosional..

Teman-teman, mohon maafkan semua kekurangan itu... Saya sedang belajar menjadi ---meminjam istilah the Wise Man di Asrama--- a better than best person.

Kedua, saya minta kado “doa”...

Doakan agar saya jadi orang yang disiplin... giat beribadah... komitmen terhadap janji dan amanah... bisa lulus cum laude... berhasil mencapai cita-cita suatu saat nanti (amiin, Ya Allah)... bisa menjadi inspirasi dan bermanfaat bagi orang lain...

Juga sebagaimana doa Kang Ida, “Ya ALLAH, muliakanlah saudaraku ini, bahagiakan keluarganya, berkahi rezekinya, primakanlah kesehatannya, BERKAHI USIANYA, kuatkan imannya, tinggikan derajatnya, kabulkan doa-doanya dan eratkan tali persaudaraan kami dengannya. Amin...”

Pernah saya sampaikan ke seorang teman, selama hidup ini saya telah mengalami banyak turning point. Ketika gagal melakukan sesuatu, itu menjadi turning point untuk berhasil di kemudian harinya. Ketika menyaksikan sebuah kematian, itu jadi titik balik saya untuk jadi insan yang lebih memanfaatkan waktu. Dan sebagainya.

Tapi dari semua itu, turning point terbesar adalah ketika dua tahun ini saya berada di sebuah Asrama, yang dihuni dan dibina oleh orang-orang yang berjiwa dan bervisi besar. Mereka telah memberi pengaruh yang sangat sangat positif bagi perubahan dan perkembangan diri saya. Di asrama ini saya temukan cita-cita sebenarnya---sebuah cita-cita yang sampai kapanpun tak akan saya tukar walau dengan segunung emas! Di asrama ini, karakter-karakter dan kebiasaan-kebiasaan positif mulai terbina dalam diri saya. Di asrama ini pula saya bertemu dengan dua teman sekamar yang telah banyak memberi inspirasi dan teladan (thanks, Buddies!! Being with you is the most Hadiah Terindah to me!).

Teman-temanku semua, sebagai sahabat mungkin saya bukan yang terbaik. Saya lebih sering merepotkan ketimbang memberi manfaat. Saya lebih sering dibangunkan ketimbang membangunkan kalian setiap pagi, lebih sering diingatkan ketimbang mengingatkan kalian untuk shalat berjamaah... Saya lebih sering ditraktir ketimbang mentraktir makanan J Saya sering lalai, ceroboh dan lupa. Bahkan di masa depan nanti, mungkin saja saya tidak ingat hari ulang tahun kalian... Tapi kalaupun itu terjadi, mohon maafkan. Tetaplah... menjadi ... bintang di langiiiiit (lho, kok jadi lagu Padi???) . Maksudnya, tetaplah kalian menjadi inspirasi bagi saya, dalam segala hal...


Tuesday, October 2

Account Fs dihapus

hi there, terutama temen2 friendster gw! account Fs gw dah diapus, dan so far blom ada niat utk menggantinya dengan account baru.

alasan penghapusan: kontraproduktif!!!

Thursday, August 9

Demi Ikutan Pesta Rakyat, Kami Pulang Kandang

Motor melaju dengan kecepatan 80 km/h. Sebenernya itu tingkat kecepatan yang biasa aja, tapi jadi luar biasa karena pagi masih buta (belum jam 5) dan helm yang saya pakai sama sekali gak menutupi muka -> udara dingin hampir aja bikin pipi beku!!

Di tepi-tepi jalan, saya temukan api-api unggun masih menyala---para pekerja malam masih memakainya tuk hangatkan telapak tangan mereka. Adi dan Sirodj, dua teman baik yang memboncengi saya dan Tomo (thanks, Buddies!!), sangat leluasa melajukan motor menembus remang dan hening.


Syukurlah, kereta masih terkejar. Hanya sedikit penumpang di dalam. Karena itu, nomor bangku tak lagi berguna, karena kami bebas duduk di manapun kami suka (kecuali di gerbong eksekutif, hehe......).

Sampai Jakarta, istirahat sebentar, lalu langsung menuju TPS tuk nyoblos, dengan niat berbuat kebaikan meski sebesar biji zarah.

Siapapun gubernur yang akhirnya terpilih, semoga bisa menjadikan Jakarta "kota santri". Apa itu kota santri?? Bukan, bukan cuma kota yang semua penduduknya pakai baju koko, melainkan kota yang semua pemudanya giat belajar/bekerja, sopir2 mikrolet santun di jalan raya, kaum elitenya dermawan dan rendah hati, pemeluk2 agama hidup damai berdampingan...

Eh, satu lagi harapan saya: Jakarta gak panas (-panas amat)!!! Sanggupkah sang Gubernur?


Anyway, 2 hari 1 malam di Jakarta benar-benar bermakna. Selain kumpul sama sanak famili, pengalaman gempa juga berkesan buat saya.
Enak juga, ya, digoyang dan diayun oleh alam selama beberapa detik....hehe....
Masya Allah, bukannya saya berharap terjadi gempa lagi, lho!

Ini jadi peringatan buat kita (terutama diri saya!) untuk lebih banyak berdzikir...

Sunday, August 5

Menjaga hubungan

Kebiasaan baru gw: menjaga hubungan. Sekarang gw (makin) gemar bantuin temen, rutin kunjungin blog/Fs temen buat sekedar ngasih comments, bales semua sms dari kenalan baru, e-mail orang2 penting, dsb...

Ternyata berguna banget!!! Banyak hal2 tak terduga yang terjadi setelah itu..!!

Jadi inget pesen seorang guru: jangan bakar jembatanmu, karena kau akan membutuhkannya lagi untuk pulang nanti.
Jembatan di sini artinya hubungan dengan orang lain.
Dulu gw sering ngebakar "jembatan". Akibatnya, sewaktu2 butuh bantuan orang lain, gw kesulitan cari pertolongan.

Thursday, August 2

Nice words I've just read

When God leads you to the edge of the cliff,
trust Him fully.

Only one of the two things will happen;
either He will catch you when you fall,
or
He will teach you how to fly.

Tuesday, July 31

Mother Teresa

Allah spreads hikmah (wisdom) throughout this world only for Muslims. It's a matter of indifference whether the hikmah come from Muslim or non-Muslim --just like Muslim may learn about the kauniya from everyone-- all Muslims must "grab" it at any chance.

We all know Mother Teresa. Many hikmah we can gain from her.

Mother Teresa opened the first Home for the Dying in space made available by the City of Calcutta. With the help of Indian officials she converted an abandoned Hindu temple into the Kalighat Home for the Dying, a free hospice for the poor. She renamed it Kalighat, the Home of the Pure Heart (Nirmal Hriday). Those brought to the home received medical attention and were afforded the opportunity to die with dignity, according to the rituals of their faith; Muslims were read the Quran, Hindus received water from the Ganges, and Catholics received the Last Rites.

"A beautiful death," she said, "is for people who lived like animals to die like angels — loved and wanted."

She soon opened a home for those suffering from Hansen's disease, commonly known as leprosy, and called the hospice Shanti Nagar (City of Peace). The Missionaries of Charity also established several leprosy outreach clinics throughout Calcutta, providing medication, bandages and food.

As the Missionaries of Charity took in increasing numbers of lost children, Mother Teresa felt the need to create a home for them. In 1995 she opened the Nirmala Shishu Bhavan, the Children's Home of the Immaculate Heart, as a haven for orphans and homeless youth.

Her words inspired me the most is those being engraved on the wall of her home for children in Calcutta. Those teach us about persistent and sincerity (istiqoma an
d ikhlas) in doing kindness.

"People are often unreasonable, illogical, and self-centered. Forgive them anyway.

If you are kind, people may accuse you of selfis
h, ulterior motives. Be kind anyway.

If you are successful, you will win some false f
riends and some true enemies. Succeed anyway.

If you are honest and frank, people may chea
t you. Be honest and be frank anyway.

What you spend years building, someone
could destroy overnight. Build anyway.

If you find serenity and happiness, they may be jealous. Be happy anyway.

The good you do today, people will oft
en forget tomorrow. Do good anyway.

Give the world the best you have, and it m
ay never be enough. Give the world the best you've got anyway."


Note: the kauniya means Allah's verses which are shown in explicit ways, for instance nature phenomenon. The opposite is qauliya verses, stated in The Holy Quran, often in implicit ways. The kauniya is evidence for truth of the qauliya (The Holy Quran), while the qauliya give signals to human-being about the existence of the kauniya (universe phenomenon, etc) in real life.