Tengah malam tadi saya terbangun, plus kaget melihat di samping bantal tergeletak sebuah buku inspiratif berjudul
Hadiah Terindah dan selembar kertas bertuliskan “Dari teman sekamarmu. Met ultah! Moga gak bosan menikmati malam bersama kita. (M.Fajrin R. – Devandra Alferi)”
Pas bangun Shubuh pun sudah ada sms dari Fiqih, yang juga baru ultah kemarin, mendoakan agar saya jadi “pejuang yang istiqomah”. Segera saya mengucap “amiin..amiin..amiin..”.
Alhamdulillah.
Tapi, boleh gak kalau di hari bahagia ini saya minta kado? Saya mau minta dua kado yang sangat sangat mahal dan berharga. Moga teman2 sanggup dan mau memberikannya...
Pertama, saya minta kado “maaf”...
Pernah saya menilai diri sendiri, hasilnya ialah saya punya beberapa kelebihan. Namun, dibandingkan dengan kelebihan-kelebihan itu, ternyata kekurangan-kekurangan saya jauh lebih banyak jumlahnya! Kadang kelewatan kalau becanda.. Kadang cuek dan tidak menghargai orang lain.. Kadang lalai dari tanggung jawab.. Kadang malas piket di asrama.. Kadang emosional..
Teman-teman, mohon maafkan semua kekurangan itu... Saya sedang belajar menjadi ---meminjam istilah the Wise Man di Asrama--- a better than best person.
Kedua, saya minta kado “doa”...
Doakan agar saya jadi orang yang disiplin... giat beribadah... komitmen terhadap janji dan amanah... bisa lulus cum laude... berhasil mencapai cita-cita suatu saat nanti (amiin, Ya Allah)... bisa menjadi inspirasi dan bermanfaat bagi orang lain...
Juga sebagaimana doa Kang Ida, “Ya ALLAH, muliakanlah saudaraku ini, bahagiakan keluarganya, berkahi rezekinya, primakanlah kesehatannya, BERKAHI USIANYA, kuatkan imannya, tinggikan derajatnya, kabulkan doa-doanya dan eratkan tali persaudaraan kami dengannya. Amin...”
Pernah saya sampaikan ke seorang teman, selama hidup ini saya telah mengalami banyak turning point. Ketika gagal melakukan sesuatu, itu menjadi turning point untuk berhasil di kemudian harinya. Ketika menyaksikan sebuah kematian, itu jadi titik balik saya untuk jadi insan yang lebih memanfaatkan waktu. Dan sebagainya.
Tapi dari semua itu, turning point terbesar adalah ketika dua tahun ini saya berada di sebuah Asrama, yang dihuni dan dibina oleh orang-orang yang berjiwa dan bervisi besar. Mereka telah memberi pengaruh yang sangat sangat positif bagi perubahan dan perkembangan diri saya. Di asrama ini saya temukan cita-cita sebenarnya---sebuah cita-cita yang sampai kapanpun tak akan saya tukar walau dengan segunung emas! Di asrama ini, karakter-karakter dan kebiasaan-kebiasaan positif mulai terbina dalam diri saya. Di asrama ini pula saya bertemu dengan dua teman sekamar yang telah banyak memberi inspirasi dan teladan (thanks, Buddies!! Being with you is the most Hadiah Terindah to me!).
Teman-temanku semua, sebagai sahabat mungkin saya bukan yang terbaik. Saya lebih sering merepotkan ketimbang memberi manfaat. Saya lebih sering dibangunkan ketimbang membangunkan kalian setiap pagi, lebih sering diingatkan ketimbang mengingatkan kalian untuk shalat berjamaah... Saya lebih sering ditraktir ketimbang mentraktir makanan J Saya sering lalai, ceroboh dan lupa. Bahkan di masa depan nanti, mungkin saja saya tidak ingat hari ulang tahun kalian... Tapi kalaupun itu terjadi, mohon maafkan. Tetaplah... menjadi ... bintang di langiiiiit (lho, kok jadi lagu Padi???) . Maksudnya, tetaplah kalian menjadi inspirasi bagi saya, dalam segala hal...
